Aktivis Kesehatan Protes Paten Moderna di Afrika Selatan

Awal 2020 menjadi momen kelam bagi masyarakat dunia ketika virus Corona yang pertama kali ditemukan di Hubei, China, menyebar ke 224 negara. Pergerakan manusia menjadi salah satu alasan virus ini berujung pada pandemi yang mematikan.

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, ada lebih dari 5,5 juta kematian di seluruh dunia akibat COVID-19. Sayangnya, tak ada yang bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir mengingat virus ini terus bermutasi. 

Kondisi ini membuat dunia bersandar pada perusahaan–perusahaan bio-tech dan farmasi untuk menghasilkan vaksin yang mampu meningkatkan imunitas tubuh dari serangan COVID-19. Kemudian lahirlah vaksin Astra Zaneca, Pfizer, Moderna, hingga Sinovac yang digunakan di berbagai negara. 

Namun dari semua negara, Afrika Selatan memiliki tingkat vaksinasi yang cukup mengkhawatirkan, hanya 11 persen dari total 59 juta jiwa penduduk. Tak hanya itu, pendaftaran paten vaksin Moderna di negara itu bahkan mendapat protes keras aktivis kesehatan. Ada apa?

Pusat Vaksin Global dan Paten Moderna

Sebelum membahas lebih dalam mengenai kenapa paten Moderna di Afrika Selatan bermasalah, perlu ditekankan, negara tersebut  memiliki pendapatan rendah. Hal ini tentu berpengaruh pada kemampuan masyarakat dalam mengakses vaksin.

Mengutip The Guardian, Moderna menawarkan vaksinnya seharga USD 30 hingga USD 42 (Rp 430.000 s/d Rp 602.000) per dosis kepada Afrika Selatan, pada awal 2021. Harga itulah yang membuat Badan Kesehatan Dunia (WHO) membentuk Pusat Vaksin. 

Pusat Vaksin tersebut dijalankan oleh konsorsium beberapa perusahaan Afrika Selatan yang meliputi Biovac, Afrigen Biologics and Vaccines, sejumlah universitas, dan Africa Centres for Disease Control and Prevention (CDC). Tujuan dari pendirian pusat Vaksin tersebut untuk memproduksi vaksin mRNA,  yang mampu memberikan dorongan kepada sistem imunitas untuk melawan dan memproteksi tubuh dari virus.

Vaksin itulah yang kemudian disebarkan ke seluruh Afrika Selatan dan negara–negara Afrika lainnya yang kesulitan mengakses vaksin. Selain itu, Pusat Vaksin itu juga ditugasi untuk membuat vaksin sendiri berdasarkan formula Moderna tanpa menggunakan teknologi dari perusahaan tersebut. 

Formula Moderna yang dimaksud di sini adalah  informasi yang telah dipublikasikan. Sehingga, formula yang dikembangkan itu bukan formula komplit. Dengan memproduksi sendiri tanpa campur tangan perusahaan privat, vaksin yang dihasilkan diharapkan mampu mencukupi kebutuhan Afrika Selatan dalam mencegah endemi. 

Sebenarnya, Afrigen Biologics & Vaccines, yang merupakan bagian dari Pusat Vaksin, telah berhasil memproduksi vaksin menggunakan rekayasa balik atau reverse-engineering dari vaksin Moderna. Namun, paten terhadap bahan dari vaksin tersebut menyebabkan kelanjutan proses pembuatan vaksin dari Pusat Vaksin terhalang. 

Adanya risiko hukum menyebabkan proses riset dan produksi Pusat Vaksin jalan di tempat. Sejumlah aktivis kemudian bersuara untuk menyebarluaskan kabar paten baru Moderna dan mengkritik keputusan perusahaan itu yang menurut mereka melakukan sabotase.

Dampak Paten Vaksin Moderna

Sejumlah aktivis telah melakukan protes dan menuntut Moderna untuk mencabut paten mereka pada produk vaksin yang dijadikan basis dari produk Pusat Vaksin Afrika Selatan. Mereka mewakilkan kekecewaan dan kekhawatiran bukan hanya warga Afrika Selatan, namun juga penduduk  Afrika yang mayoritas belum divaksin.

Mengingat Pusat Vaksin sudah melakukan riset dan produksi vaksin serta mendapat suntikan dana dari berbagai negara, maka cukup dimengerti jika keputusan Moderna itu mengecewakan banyak pihak. Tentunya Moderna mendengar suara protes para aktivis dan peneliti tersebut.

Moderna akhirnya merilis pernyataan tidak akan menegakkan paten terhadap produk vaksin mereka di Afrika Selatan. Namun pernyataan tersebut tidak cukup untuk menenangkan Pusat Vaksin dan para pendukungnya. Pasalnya, risiko  hukum masih ada  karena kapan saja Moderna dapat berubah pikiran. 

Jika terjadi, maka Pusat Vaksin terpaksa harus menghentikan proses produksi dan uji klinis vaksin mereka. Meski begitu, bukan berarti Pusat Vaksin harus menghentikan upaya manufaktur vaksin mRNA konsorsium tersebut. 

Belakangan ada kabar bahwa Pusat Vaksin Afrika terus maju dalam perkembangan teknologi mRNA yang akan disebarluaskan ke seluruh negara di benua tersebut. Ini tentu berita baik. Namun, apabila Moderna mencabut paten atas teknologi dan formula vaksin mereka, maka proses produksi vaksin yang dijalankan Pusat Vaksin akan berjalan lebih mulus tanpa kemungkinan sengketa hukum.

Paten dan Temuan Vaksin di Era Pandemi COVID-19

Mematenkan vaksin di tengah  pandemi COVID-19 memang menjadi isu sensitif. Pasalnya, kekayaan intelektual ini harus berhadapan dengan sisi kemanusiaan. 

Setiap penemu pada dasarnya memiliki hak untuk mendaftarkan paten atas temuan mereka. Sehingga mereka mendapat perlindungan sekaligus keuntungan dari pendaftaran paten yang pada dasarnya mendorong peningkatan invensi. 

Namun dalam kondisi mendesak di mana masyarakat terkena dampak dan menderita akibat sebuah wabah, maka paten dapat membatasi pergerakan pihak luar untuk membantu. Pihak luar yang dimaksud di sini adalah selain pencipta vaksin yang ingin ikut serta membantu berupa produksi vaksin. 

Bukan tidak mungkin pihak lain mampu membuat produk vaksin mereka sendiri. Namun yang dikhawatirkan di sini adalah proses pembuatan vaksin dari nol akan memakan waktu dan dana. Sementara menghasilkan vaksin dari formula atau basis vaksin yang sudah ada akan mempercepat produksi dan distribusinya. 

Dikarenakan kerumitan yang muncul akibat bertabraknya kepentingan Kekayaan Intelektual dan kepentingan masyarakat, maka pendaftaran paten pada penemuan penting seperti vaksin di masa pandemi tergolong merugikan dan menghadang perkembangan upaya menyehatkan masyarakat serta pengontrolan pandemi COVID-19.

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya mengenai Kekayaan Intelektual hanya di situs ambadar.co.id atau melalui platform media sosial kami.

Berita Terkait

Tertarik untuk berita lebih lanjut?

Lihat berita dan artikel kami!