Vaksin, AI, dan Kebangkitan China: Kilas Balik Paten Sepanjang 2021

Di tengah pandemi COVID-19, sederet inovasi penting lahir dari berbagai penjuru dunia sepanjang tahun 2021. Meski tak tahu kapan pandemi akan berakhir, namun bukan alasan untuk berhenti mencipta dan menginovasi. Berikut adalah rangkuman dari beberapa penemuan, kasus, dan perkembangan menarik dalam bidang paten sepanjang tahun lalu.

Pemain Kunci

Basis data paten, IFI Claims, merilis daftar pemilik paten terbanyak hingga akhir tahun 2021, dimana Samsung menempati posisi pertama dengan 90.416 paten. Apabila dikategorikan berdasarkan negara, Amerika Serikat masih memimpin di mana 70 perusahaannya masuk berada di top 250. Sementara Jepang dan China mengekor di belakangnya.

Meski berada di posisi pertama, namun jumlah paten Amerika Serikat turun 8 hingga 12 persen sepanjang tahun lalu. Sementara perusahaan China justru naik 10 persen, dari 18.792 paten pada 2020 menjadi 20.679 pada tahun lalu. Sebanyak empat perusahaan China sekarang berada di top 50, termasuk Huawei, BOE, Advanced New Technologies, dan Guangdong Oppo.

Vaksin

Vaksinasi merupakan salah satu topik terpanas sepanjang tahun 2021. Didaftarkan oleh ModernaTX dengan nomor Patent Application 20210228707 mencakup asam ribonukleat (mRNA) yang memiliki setidaknya 80 persen identitas pada urutan nukleotida tertentu dan mengkodekan polipeptida yang terdiri dari urutan asam amino tertentu. Kontroversi muncul ketika National Institutes of Health mengklaim bahwa penelitiannya berkontribusi pada pengembangan mRNA yang menyebabkan perselisihan dengan Moderna.

DABUS

Kasus DABUS dan sistem AI (kecerdasan buatan) sebagai pemegang paten mungkin adalah berita paten paling aneh sepanjang tahun 2021. Stephen Thaler, penemu sistem AI DABUS berupaya agar AI ciptaannya itu diakui sebagai penemu dua hak paten. Namun usahanya tersebut ditolak banyak pengadilan di berbagai negara.

Tahun lalu, kantor paten Afrika Selatan, serta Pengadilan Federal Australia, mengejutkan dunia ketika mereka menerima DABUS sebagai penemu pada dua paten tersebut. Masih belum bisa dipastikan bagaimana ini akan memengaruhi masa depan AI serta hubungannya dengan kekayaan intelektual, namun yang jelas kasus DABUS adalah kisah yang unik dalam sejarah paten dunia.  

Membeli Karya dengan Menambang

Crypto dan Bitcoin berkembang subur sepanjang tahun lalu. Memang, masih ada beberapa aspek dari crypto yang menuai kritik dan membuat investor ragu, diantaranya biaya yang diperlukan untuk ‘mining’, proses pembuatan unit Bitcoin baru atau memasukkan transaksi baru ke dalam blockchain. Untuk mengatasi ini, Sony Corporation mengeluarkan nomor Paten AS 10943268 pada Maret 2021. 

Paten tersebut berbentuk metode pemanfaatan komponen perangkat yang diberi energi saat layar mati untuk melakukan penambangan Bitcoin di latar belakang dengan memberi imbalan remunerasi yang dikreditkan ke akun pengguna. Metode ini melibatkan pengidentifikasian aplikasi baik pra-instalasi atau yang telah diunduh ke perangkat, menjalankan aplikasi agar memberi imbalan kepada user untuk penggunaan konsol atau kekuatan pemrosesan perangkat saat tidak ada game atau konten yang sedang ditampilkan.

Atau, untuk membayar game atau konten yang menggunakan sebagian kredit yang diperoleh dengan menjalankan aplikasi, sehingga memungkinkan pengguna untuk mendapatkan konten tanpa harus melihat iklan. Paten ini adalah salah satu tanda bahwa crypto tidak akan hilang dalam waktu dekat, dan mungkin akan lebih berperan dalam kehidupan sehari-hari di masa mendatang. 

Untuk mendapatkan berbagai berita-berita penting serta layanan berkualitas terkait kekayaan intelektual, silakan hubungi kami melalui email marketing@ambadar.co.id.

Related News

Interested for more news?

Check out our news and articles!